Teringat ketika para pemuda mewariskan jasanya dengan penuh
tenggang rasa serta semangat yang
membara untuk membela tanah air kita yang senantiasa dijajah oleh Belanda dan
sekitarnya.
Teringat ketika para pemuda berteriak mendeklarasikan harga
diri untuk tanah air ini demi mengikuti jejak para pahlawan yang mati dikandang
sendiri demi tercapainya tujuan yang suci yaitu kemerdekaan yang dinanti yang
hanya kita bisa nikmati sekarang ini.
Teringat ketika zaman-zaman para pemuda mempersatukan suku
demi tercapainya Indonesia yang maju tanpa rasa malu dengan tekad sekeras batu untuk
mengusir para penjajah yang tanpa diundang terlebih dahulu.
Teringat ketika rakyat yang dibela oleh para pemuda karena
melarat yang diakibatkan oleh para penjajah yang kuat untuk menjauhkan mereka
yang selalu melekat pada Negara yang penuh harkat dan martabat.
Dan teringat pada masa-masa para pemuda yang menjadi pejuang
untuk menggantikan para pahlawan yang mati dikenang demi membela negeri dengan
penuh rasa kasih sayang supaya tidak jatuh ke tangan para penjajah yang
lantang.
Semua itu telah di deklarasikan melalui Sumpah Pemuda yang berbunyi:
SOEMPAH PEMOEDA
Pertama :
"KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH
JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA"
Kedua :
"KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG
SATOE, BANGSA INDONESIA"
Ketiga :
"KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA
PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA"
Djakarta, 28 Oktober 1928
Hanya dengan membaca ketiga point dari sumpah pemuda itu,
teringat bahwa Putra Putri Indonesia menumpahkan darahnya untuk bersatu,
berbangsa untuk bersatu dan menjunjung bangsa persatuan demi tanah air
tercinta. Kota Jakarta sebagai saksinya dan tanggal 20 Oktober sebagai pijakannya.
Sekarang kita telah mengetahui bahwa dahula kala para pemuda
bersusah payah untuk berusaha mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia dan mempertahankan
harkat dan martabat bangsa. Terus, apa yang terjadi dengan para pemuda di Era Digital dengan zaman teknologi yang berkuasa ini.. Pada zaman dahulu, ketika Handphone masih memakai telegram dan email masih memakai surat, semua jaringan komunikasi itu masih dibatasi oleh para penjajah
untuk meminimalisir pergerakan yang berontak secara tiba-tiba. Balik lagi ke
era modern yang tak lekang oleh waktu, secara tidak langsung kita telah
menikmati jerih payah sebagai hasil dari perjuangan para pemuda dan para pahlawan
yang rela mati demi keutuhan Negeri. Kegiatan jaringan komunikasi pun tidak ada
yang membatasi. Tetapi ada yang menyimpang dengan hal ini, paradigma yang mengejutkan
terdapat pada zaman modern.

Memang benar ketika dahulu setiap kegiatan dibatasi
oleh penjajah, tapi ketika sekarang setiap kegiatan malah dibatasi oleh
teknologi. Seperti pada saat sosialisasi, kebanyakan dari mereka malah
menikmati benda mini yang sedang dipegang. Bahkan sampai ada yang senyum-senyum
sendiri. Atau istilahnya malah menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh.
Benda mini itu seakan-akan menjadi teman sejati daripada sahabat sendiri yang
selalu memberi motivasi dan solusi. Ketika bangun tidur, bukannya doa yang
dipanjatkan, tetapi tangan malah sibuk mencari keberadaan benda yang selalu
digunakan. Hal itu seakan-akan menjadi senjata makan tuan disaat dahula kala
para pemuda selalu dibatasi dalam setiap gerakan oleh penjajah yang jauh dari kata sopan. Kesimpulannya di zaman
modern ini, kita telah menemukan penjajah yang baru yang selalu membatasi
setiap pergerakan, selalu membatasi pergaulan dengan teman, lalai dalam
mengerjakan kewajiban, dan berpotensi mempengaruhi hubungan dalam kekeluargaan.
Era Digital telah dimulai dengan teknologi sebagai penguasanya yang siap
menjerumuskan dan memanjakan mereka yang pemalas.
Apakah ada yang salah dengan semua ini? Tentu saja tidak. Teknologi
secanggih apapun tidak bisa disalahkan keabsahannya. Karena kemajuan Era Digital memang sudah ditakdirkan oleh yang Masa Kuasa. Hal itu terdapat pada
Hadits Nabi Muhammad SAW, ketika itu beliau sedang menjalankan peristiwa Isra
Mi’raj yang ditemani oleh Malaikat Jibril. Perjalanan dimulai dari Masjidil
Aqsha hingga ke Sidratul Muntaha yang merupakan langit tertinggi (langit ke-7). Pada proses perjalannya sebelum tiba di
langit ke-7, beliau bertemu dengan seorang Nenek yang amat tua sekali, tapi ada
yang aneh dengan Nenek itu. Sang Nenek yang terlihat tua, memakai perhiasan
dengan bergelimpah. Nenek itu menyapa Nabi SAW:
"Hai Muhammad, hai Muhammad (Sambil mengangkat dan menggerakkan tangan)".
"Wahai Djibril, siapakah itu? (Tanya Muhammad SAW)".
"Itu adalah gambaran BUMI dimasa depan (Jawab Malaikat Djibril)".
Sudah jelas, bisa ditarik kesimpulan dari Hadits tersebut
yaitu “Semakin modern dan canggihnya Bumi ini, menandakan bahwa umur Bumi
semakin tua”.
Kemajuan teknologi tidak akan berhenti di abad-21. Di tahun-tahun
berikutnya, pasti akan memunculkan beragam inovasi baru dibidang tersebut. Sebenarnya
itu menjadi pukulan telak bagi pengguna digital terutama para pemuda. Apakah akan
terus dimanjakan oleh digital dengan beragam inovasinya, atau bisa memanjakan
digital dengan kemampuan dari ilmu yang dimiliki. Kita harus bisa mengubah paradigma
tersebut sebelum semua itu terlambat. Dengan
cara mempelajari ketiga point dari Sumpah Pemuda di Era Digital ini. Baik
dipelajari di lembaga pendidikan formal, informal maupun non-formal. Tentunya ketiga
lembaga tersebut harus saling mendukung dan bekerja sama supaya bisa mewujudkan apa yang ingin diharapkan terhadap para pemuda.
Bahkan sang singa podium, presiden Republik Indonesia pertama, bung karno
pernah mengucapkan kalimat bernada harapan tinggi kepada para pemuda,
“Berikan
aku 10 pemuda, maka akan kuguncangkan dunia”. Itulah sepenggal kalimat yang
diucapkan beliau. Terkesan berlebihan jika pemuda yang diharapkan bung karno
bisa mengguncang dunia. Akan tetapi hal itu telah terealisasi dan menjadi
kenyataan dikala para pemuda pada zaman dahulu berdedikasi untuk menyelamatkan
bangsa dari para penjajah. Walaupun sebatas di dalam negeri, tapi guncangan
para pemuda terhadap penjajah kala itu sungguh luar biasa. Segenap harga diri
dikorbankan demi tanah air. Dan pada akhirnya, puncak dari perjuangan para
pemuda tercantum dalam ke tiga point sumpah pemuda. Itu merupakan bukti nyata
bahwa pemuda bisa mengguncangkan dunia dengan segenap tekad mereka. Lantas,
apakah kalimat yang diucapkan oleh bung karno berlaku pada era digital saat
ini? Bukan tidak mungkin bagi para pemuda di zaman sekarang bisa seperti apa
yang bung karno harapkan. Pernyataan bung karno yang berperan besar dalam
menimbulkan ketiga point sumpah pemuda, itu merupakan bukti implementasi dari
perjuangan para pemuda. Hingga ketiga point tersebut sampai saat ini dimasukkan
kedalam tonggak sejarah Indonesia dan terus berusaha diamalkan. Inilah
kesempatan bagi para pemuda era digital untuk mempelajari point-point tersebut
dengan segenap tekad seperti yang dimiliki pemuda zaman dahulu.
Jika point-point itu telah telah dipelajari dan sampai masuk
kedalam hati nurani para pemuda di Era Digital ini, maka akan mengubah paradigma
baru dari para pemuda terhadap teknologi. Yaitu:
Dominasi teknologi yang menguasai pemuda dengan sebagian
asumsi bernada negatif, bisa diubah kearah positif dengan menjunjung tinggi nilai-nilai manfaat dari teknologi
dan mengurangi sebisa mungkin nilai-nilai madharat dari teknologi. Era Digital yang menguasai pemuda pada zaman sekarang ini, akan
diubah menjadi era pemuda yang menguasai digital pada zaman ini. Dan yang lebih penting, unsur spiritual dari para pemuda
akan lebih tinggi daripada unsur digital dari para pemuda.